please click on image for large size

Between Wall and Sky
21 Nov – 21 Dec 2009
SOLO EXHIBITION BY EDO PILLU at Vanessa Art Link , Vanessa Art Link Beijing
No. 2 798 Art District, 2 Jiuxiangqiao Road
Chaoyang District, Beijing 100015 – China
T. +8610 5978 9858
F. +8610 5978 9859
E. vanessaartbj@yahoo.cn
“Illusion is the first of all pleasures” ―Voltaire(1
Edo Pillu (Edward) berusaha menafsirkan persoalan ‘batas’ dari ambisi pencapaian manusia. Lukisan-lukisan mutakhir Pillu mengunakan beberapa imej karya patung dan monumen yang merepresentasikan simbol kemajuan peradaban manusia. Pillu menggabungkan imej-imej tersebut dengan imej ruang arsitektural yang juga mengilustrasikan lokasi-lokasi bagi terjadinya peristiwa-peristiwa penting yang menentukan perubahan sejarah manusia, seperti: perpustakaan, tempat ibadah (gereja, mesjid), ruang pasar modal, ruang panggung pementasan, ruang parlemen politik, dll. Pillu pada karya-karyanmya menghubungkan patung dan monumen tersebut, sebagai subject matter persoalan, dengan cakrawala ruang-ruang arsitektural yang bersejarah. Bagi Edo Pillu, gedung berikut prestasi pemikiran arsitekturalnya bukan hanya simbol bagi kemajuan visi dan pemikiran manusia, tetapi juga manifestasi keberhasilan manusia mengadaptasi seluruh kemungkinan semangat hidup zaman yang bersifat abstrak.
Dalam sebuah percakapan, Edo Pillu mengatakan, bahwa: “ruang-ruang itu merupakan representasi dari rasa yang beragam lalu dimanifestasikan dalam dua elemen penting arsitektural yaitu: langit-langit dan dinding bangunan. Keduanya, masing-masing, menunjukkan daya tarik-menarik antara kesadaran tentang Tuhan (yaitu hubungan yang bersifat vertikal, parenial); dengan kekuatan kesadaran manusia dalam elaborasi hiasan dinding-dinding yang megah”.
Bagi saya, apa yang dimaksud Edo Pillu sebagai simbol-simbol kemajuan peradaban tersebut adalah pemikiran mengenai jalan panjang pembayangan menuju kondisi modernitas. Dalam hal ini adalah soal membayangkan makna mendalam mengenai realitas hidup sebagai suatu rangkaian proses penemuan berbagai situasi asing yang berlangsung terus membentuk kesadaran-kesadaran hidup yang baru. Ruang parlemen politik, misalnya, melahirkan berbagai kebijakan pengaturan kehidupan sosial-potitik; perpustakaan melahirkan berbagai visi dan pemikiran tentang masa depan; tempat ibadah mengajarkan seseorang sikap khusyuk untuk menafsir arti kamajuan rohani; atau ruang pasar modal yang melahirkan sikap dan ambisi kemajuan material. Inilah pokok yang penting dari proses ke-modern-an manusia. Filosof Perancis, Jean-Francois Lyotard, memberi petunjuk pada kita bahwa : “[m]odernitas, dimanapun hal itu terjadi, tak berlangsung tanpa adanya pemecahan suatu sistem kepercayaan tertentu, tidak juga terjadi tanpa adanya temuan soal tidak mencukupinya ‘realitas’ yang ada di dalam realitas ―suatu temuan, yang dalam hal ini, terkait penemuan berbagai realitas yang ‘lain’”(2.
Edo tak bermaksud mendeskripsikan tahap kemajuan sosial-politik peradaban tersebut secara deskriptif, ia hanya sampai ada simpul-simpul simbolik tentang kemajuan manusia via tanda kegemilangan arsitektural dan monument. Penjajaran kedua simpul simbolik tersebut bukannya tanpa masalah karena justru pada keduanya, bahkan bagi masing-masing, beban ambisi manusia dan kepentingan ideologis disimpulkan. Ruang arsitektural dan monumen adalah tanda bagi lingkungan dan kehadiran kepentingan ideologi yang sekaligus merangkum berbagai sentimen dan semangat hidup suatu zaman secara tertentu. Melalui artsitektur bangunan dan pembangunan monumen, sejarah peradaban besar manusia diceritakan. Pada titik semacam itu ideologi bekerja secara halus dan akhirnya diakui secara sosial. Teoritisi kebudayaan dan politik Louis Althusser menjelaskan, bahwa “(a)ll ideology has the function (which defines it) of ‘constituting’ concrete individuals as subjects. Ideology is itself, ‘a representation’ of the imaginary relationships of individuals to their real conditions of existence”(3.
Karya-karya Edo Pillu adalah respons artistik mengenai kondisi pengalaman hidup yang bersifat ideologis dalam model representasi visual. Pillu tak hanya menggunakan represetasi imej yang bersifat ideologis (ruang arsitektur, patung serta monument) tetapi juga bekerja melalui efek-efek visual yang diperolehnya dalam kesadaran terhadap teknik bekerja.
Dalam proses berkerja, pertama-tama, Edo menyiapkan rancangan dan komposisi imaji sebagi suatu pola bentuk (semacam ‘klise’ dalam istilah fotografi). Pola bentuk itu mengalami proses pengolahan digital melalui program komputer grafik sehingga menghasilkan efek kontras yang dramatis. Gambar hasil olahan itu kemudian ia cetak pada bahan plastik sebesar ukuran ‘lukisan’ yang ia inginkan. Dari dasar lembaran cetakan itulah Edo Pillu mulai menumpukan lapisan warna-warna yang akhirnya membentuk karyanya. Memahami proses ini, sebenarnya bisa dibandingkan dengan teknik mengerjakan lukisan tradisional yang ada di beberapa daerah di Indonesia yang dikenal dengan sebutan lukisan kaca (glass painting). Pola kerja melapisi cat pada karya Edo Pillu memang mirip dengan cara mengerjakan lukisan kaca karena masing-masing taat pada pertimbangan prinsip penempatan warna secara khas. Warna yang ditempatkan paling awal menjadi warna paling depan, yang paling dulu terlihat, warna yang ditempatkan berikutnya kemudian menjadi latarnya, dst). Namun demikian, tetap ada perbedaan diantara keduanya. Lukisan kaca seni tradis lebih memanfaatkan warna-warna tunggal dengan efek garis bentuk (outline) menandai bentuk akhir; sementara Edo secara lebih kompleks menumpukan percampuran warna-warna di atas pola bentuk yang sudah lengkap sebagai klise dan sumber gambar.
Edo merespon lebih jauh tradisi lukisan kaca dengan perkembangan teknologi grafis mutakhir dan teknologi bahan yang lebih maju. Dalam proses kerjanya, para pelukis kaca tradisi menggambar dan seolah memunculkan bentuk gambaran dari bidang kosong kaca (dengan panduan out line gambar di baliknya). Pada proses ini terjadi semacam proses memunculkan gambaran yang sebelumnya bersifat ‘tak nyata’ (absence) ―tentang imej para tokoh dalam cerita dunia wayang― menjadi ‘nyata’. Sementara itu, Edo Pillu justru melacak ulang imej yang sebelumnya telah ada, sebagai hasil cetakan digital, dengan cara memberikan pelapisan warna (pewarnaan ulang) dengan bahan penebal sintetik (acrylic resin dispersion – thickening agents). Pada proses pelapisan ini berlangsung proses yang tak selamanya bisa dikontrol dan dikelola (karena tak ada bidang tebus untuk memeriksa hasil). Dengan demikian pada tahap proses melacak-balik imej ini Edo melakukannya secara intuitif dan tentunya juga rawan dengan penyimpangan dan pembedaan hasil. Namun demikian, Edo jusru seolah ingin menunjukkan sikap kritisnya pada ketepatan teknologi pencetakan imej yang modern dan ia ingin lacak-balik imej yang dirancannya dengan sentuhan kesalahan yang bersifat manusiawi.
Pengetahuan terhadap karakter material menjadi penting dalam proses berkarya Edo Pillu. Pelapisan warna-warna pada permukaan karyanya adalah komposisi pewarna akrilik dicampur bahan penebal sintetik yang mesti diolah dengan tingkat keterampilan tertentu. Gejala pengeringan dan proses kimia yang terjadi pada campuran bahan itu jadi perhatian penting baginya. Proses pengeringan bahan yang membutuhkan jangka waktu tertentu tersebut pada akhirnya jadi bagian unsur ekspresi yang instrinsik pada permukaan warna yang dihasilkannya. Ini adalah pengetahuan teknis khas yang dikuasi oleh Edo Pillu. Pengaturan waktu pengeringan masing-masing lapisan warna bisa menghasilkan efek-efek retakan yang nampak alamiah, sekaligus memunculkan karakter campuran warna yang tidak sepenuhnya bisa diduga persis. Meski karya Pillu menunjukkan efek tumpukan warna yang ekpresif serta beragam kita tetap menemukannya sebagai bidang permukaan yang bersifat datar ―suatu paduan kontradiksi yang terasa ‘asing’ bagi pengalaman melihat permukaan karya seni lukis pada umumnya.
Memahami keseluruhan tahap dan proses melukis yang dilakukan Edo, saya menemukan pokok pengertian penting mengenai kesadaran dialami oleh sang seniman secara personal. Edo Pillu sendiri mengatakan, bahwa: “meski seluruh rangkaian proses kerja secara mendasar bisa diatur dan direncakan; namun tetap, pada akhirnya tak seluruhnya bisa kita kendalikan”. Bagi saya, sikap yang terbit dari kesadaran proses berkerja ini menyatakan semacam pendirian yang bermakna filosofis: ibarat pandangan semacam ini, bahwa “berbagai gejala alam, sebagaimana juga jalan hidup kita, memang bisa dipikirkan dan rencanakan, toh tak seluruh hasilnya bisa kita kendalikan”. Dalam titik kesadaran semacam inilah saya melihat kaitan antara ruang arsitektural dan monumental yang dikerjakan Edo Pillu dengan tem,a persoalan ‘batas’ yang dimaksudnya secara eksistensial.
Edo Pillu pernah menjelaskan pandangnya, bahwa: “seringkali, sebuah bangunan dibanggakan sebuah komunitas [manusia] dengan rasa ‘besar’. Sementara itu berbagai idiom monumental sering dipakai sebagai tanda kebesaran sejarah. Padahal bagi saya, selalunya, seluruh memiliki alasan keberadaan dengan berbagai beban ‘kesejarahan obyek’, dalam dirinya sendiri, dalam diamnya, dalam fragmentasinya. Ini sebuah ironis, karena kita sementara ini sering terkurung dalam kebesaran sekaligus keterbatasan sejauh tak lebih dari batas langit-langit dan dinding [arsitektural]”. Saya rasa, Edo Pillu mencoba mengingatkan lagi pada kita mengenai kekuatan ilusi tanda kebesaran arsitektural dan monumen. Ia sebaliknya mengajak kita menerawang lebih jauh pada lapis tak terbatas di atasnya, pada langit yang melampaui cakrawala monumen penciptaan manusia.
Saya pikir Edo Pillu paham bahwa pengertian operasional suatu ideologi justru paling tepat kita pahami sebagai suatu rangkaian kesadaran dari praktek sosial yang bersifat sistemik sehingga setiap orang di dalam kesehariannya tak lagi sempat memikirkannya selain menganggapnya sebagai suatu kenyataan yang alamiah. Teoritisi budaya Raymond William bahkan berkomentar bahwa pengertian paling penting dari ideologi “is not only the conscious system of ideas and beliefs, but the whole lived social process as practically organized by specific and dominant meanings and values”(4. Dengan demikian, karya-karya Edo Pillu saya rasa berusaha berada pada semacam titik pertemuan yang menghubungkan antara lapisan pengalaman hidup kita sehari-hari dengan apa yang dikatakan atau dirumuskan dalam kata-kata dan pengertian yang pada dasarnya bersifat ideologis. Lukisan-lukisan ini berusaha berada diantara produksi makna yang jadi pengetahan yang bersifat diskursif dengan model signifikasi yang bersifat non-diskursif yang diwakili oleh permainan efek-efek visual. Edo Pillu mengajak kita sebagai subject matter sejarah kemanusiaan agar bisa melampaui batas ilusi dinding-dinding arsitektural dan tanda-tanda monumen, selain berada dalam kesadaran eksistensial diantara dinding batas kehidupan dan langit yang tak berbatas.
Bandung, oktober 2009
Rizki A. Zaelani
Curator
ENDNOTES:
1. http://quote.robertgenn.com/getquotes.php?catid=142&numcats=345
2. Jean-Francois Lyotard, The Postmodern Explained (Minneapolis: Minneapolis University Press, 1993), p.9
3. Louis Althusser, “Ideology and the State”, Lenin dan Philosophy (New Left Books, 1971), p.160.
4. Raymond Williams, Marxism and Literature (Oxford: Oxford University Press, 1977), p.109.




Recent Comments